2 Februari 2023
×
×
Today's Local
2 Februari 2023
Tutup x

Kejayaan Sandiwara Mahkota Mayangkara bagi Generasi 90-an di Banggai


Membayangkan hiburan generasi era 90-an di Kabupaten Banggai, sekuel sandiwara radio Mahkota Mayangkara menjadi sandiwara bersambung yang paling menghibur.

Maklum masa itu, tak ada listrik yang menjangkau kecamatan diluar Kota Luwuk, tak pula ada siaran televisi.

Mendengarkan sandiwara radio adalah satu-satunya hiburan seperti halnya sinetron atau drakor saat ini.

Saat malam tiba, kebanyakan anak muda memilih mojok mengerubungi radio kecil.

Tentu imajinasi dan kemampuan membayangkan sangat diperlukan pada hiburan tanpa visual.

Tapi keseruan bisa dirasakan, setiap iklan balsem cap betet menjeda sandiwara, maka ramai-ramai bersorak.

Tak heran generasi masa 90 an itu sangat nyambung berkisah sejarah majapahit.

Mari sedikit bernostalgia tentang kisah Ra Kuti dalam Mahkota Mayangkara.

Sandiwara Mahkota Mayangkara berkisah tentang seorang pemuda dari kalangan rakyat jelata yang bernama Ra Kuti yang berasal dari Desa Ganding.

Oleh karena mimpinya, kemudian ia berambisi menjadi Raja Kerajaan Majapahit, sebagaimana dahulu Ken Arok yang merupakan kalangan rakyat jelata namun berhasil menjadi penguasa Tumapel yang kemudian mendirikan Kerajaan Singhasari dan menurunkan Trah Rajasa.

Ra Kuti mempunyai teman baik bernama Ra Semi, bersama temannya inilah kemudian ia berangkat ke Majapahit dan memulai kariernya dengan mendaftar sebagai prajurit atau pasukan Bhayangkari.

Melihat persaingan yang sangat keras di istana kerajaan, Ra Kuti memutuskan untuk mengembara mencari seorang guru kanuragan.

Dalam pengembaraannya, ia menantang setiap orang yang ditemuinya yang dianggapnya mempunyai kanuragan tinggi.

Ra Kuti bertemu dan bertarung dengan Arya Kamandanu di Gunung Arjuno, ketika kalah dalam pertarungan, ia juga memohon agar Arya Kamandanu sudi mengangkatnya menjadi murid.

Tapi Arya Kamandanu yang sudah menyepi untuk merawat anaknya dan meninggalkan dunia persilatan menolaknya.

Ra Kuti tidak putus asa, ia melanjutkan pengembaraannya dan sampailah di Gunung Tengger dan bertemu dengan Wong Agung, guru mendiang Mpu Tong Bajil.

Kembali ia menantang Wong Agung untuk bertarung,namun dengan mudah Ra Kuti berhasil dibuat tidak berdaya. Beruntung kali ini kali ini Wong Agung bersedia menerimanya menjadi murid karena melihat begitu besarnya tekad dan kegigihan dari Ra Kuti yang pantang menyerah.

Karena bakat yang dimilikinya, akhirnya Ra Kuti berhasil menguasai Aji Segara Geni tingkat tinggi hanya dalam beberapa bulan. Kemudian ia memutuskan untuk kembali ke Majapahit dan kemudian melakukan pemberontakan besar –besaran.