2 Februari 2023
×
×
Today's Local
2 Februari 2023
Tutup x

Batu Nisan di Bangkep Ungkap Islam Masuk Ke Nusantara Bukan Abad 13

Semua bukti itu ini jelas membantah dongeng yang mengatakan Islam masuk Indonesia baru pada abad XIII M.

Ridwan Saidi, Politisi Senior, Sejarawan, dan Budayawan Betawi.

Bukti catatan yang tertera di beberapa nisan kuburan telah menjadi bantahan anggapan jika Islam baru masuk ke Indonesia pada abad ke 13. Demikian tanggapan Ridwan Saidi, Politisi Senior, Sejarawan, dan Budayawan Betawi.

Ridwan dalam artikelnya yang dimuat Republika.co.id pada kolom Khasanah menjelaskan, bahwa salah satu makam Islam tertua pada abad VII M yang berada di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah telah membuktikan hal itu. “Di sana jelas dalam nisan kuburan tertulis tahun 67 H atau 688 M. Nisan abad VII M ini sampai sekarang masih terjaga,” tulisnya.

Selain itu, terdapat pula satu makam yang wafat pada 168 H atau 790 M, yaitu Sheikh Sya’ban (di Tangerang ada Rawa Sa’ban).

Semua bukti itu ini jelas membantah dongeng yang mengatakan Islam masuk Indonesia baru pada abad XIII M.

Sebelah timur Banggai Kepulauan laut Maluku. Letak makam tidak jauh dari radius zona ekonomi Maluku. Maluku salah satu tujuan pelayar-pelayar dari Afro Swahili dan Arab.

Prasasti Kebon Raja Bogor (foto di atas) dan nisan Troloyo, Jatim, beraksara Nabathaen yang banyak dipengaruhi aksara Aram. Seorang arkaeolog UI, mungkin karena tak mampu baca aksara lalu menyebut Prasasti Kebon Raja, sebagai prasasti palsu. Pendapatnya itu hasil kutipan dari seorang arkaeolog bule yang menyebut itu palsu. Kepadanya saya berondong pertanyaan: aksara yang digunakan apa dan apa pula tujuan memalsu. Ia tak menjawab dan hanya tertunduk. Saya menduga ia menghitung ubin di lantai.

Saya mengeja Kebun Raja bukan Kebun Raya karena prasasti Kebantenan sebut Sunda Sembawa atau Sundanese Quartier. Itulah Kebun Raja. Ketika semangat antifeodal yang tidak proporsional menggelegak Kebun Raja diganti Kebun Raya. Kok pisang raja tak diganti pisang raya?

Pergantian script di Arab dari Nabathaen ke Hijaiyah terjadi 651 M. Dapat disimpulkan prasasti Kebun Raja dan nisan Troloyo yang beraksara Nabathaen dibuat sebelum 651 M. Banggai yang 688 M sudah menggunakan Hijaiyah.

Prasasti Kebon Raja maupun nisan Troloyo mengandung teks syahadat, ‘la ila Hu‘. Tidak ada, selain Tuhan. Berdasarkan bukti ini Islam telah masuk Andunisi pada VII M.

Prasati Tuk Mas Semarang selatan beraksara Venggi bahasa Khmer Hind. Kemungkinan pembuat prasasti datang dari Champa atau Kompong Chom. Prasasti membahas ajaran Islam tentang berserah diri: ‘Apakah berserah diri mudah? Itu laksana membuat pipa (cangklong) dari pasir’.

Istilah membuat pipa dari pasir. Maknanya tidak mudah. Ungkapan itu amat berkelas.

Kemudian mmasih banyak bukti yang dapat saya tunjukkan untuk menunjuk pernyataan masuknya Islam pada abac XIII hanya sekadar dongengan menjelang tidur. Itu misalnya:

  1. Mesjid atap terbuka pola Karbala di Malangka, Luwu utara.
  2. Koin mas koleksi museum Aceh dan Fadli Zon. Juga jambia Emirate di Aceh.

Fakta pada butir 1 dan 2 itu berasal abad VII M.

Jadi sama halnya dengan sosok kerajaan Tarumanagara dan Sriwijaya yang khayal, sebutan Islam datang tak dapat dijadikan alat bukti. Paling-paling untuk mendukung lagu Melayu nyanyian Hasnah Thahar tahun 1954: Khayal dan Penyair.

Mengapa kau mengkhayal

Khayal menggoda hati

Kar’na aku haus

akan keindahan.